Kamis, 23 Mei 2013

Otak dan Perilaku

Otak dan Perilaku
Oleh: Syahril Syam

Selama ini, para ahli ilmu kejiwaan selalu ber-asumsi bahwa perilaku kita selalu ditentukan oleh pengaruh lingkungan. Adalah mashab behaviorisme yang pertama kali meng-klaim hal ini. Dan mashab yang lahir di negeri Paman Sam ini kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia, Bahkan teori pendidikan banyak mengadopsi ajaran dari mashab ini. Salah satu tokoh utamanya, John Watson, bahkan pernah sesumbar bahwa ia bisa membentuk perilaku anak sedemikian rupa sesuai dengan keinginannya, cukup dengan mengubah-ngubah stimulus yang diberikan. Behaviorisme tidak peduli apakah Anda jahat atau baik, rasional atau emosional; menurut mereka, perilaku Anda bisa diubah dengan hanya mengubah lingkungan saja.

Bahkan Watson dan rekannya pernah melakukan sebuah eksperimen yang "sedikit gila", hanya untuk membuktikan teorinya. Eksperimen ini bermula pada seorang anak kecil, dan diberikan seekor tikus putih kesayangannya. Watson menginginkan suatu perilaku rasa takut muncul pada anak tersebut. Dengan menciptakan suatu kondisi tertentu, diharapkan rasa takut itu muncul pada anak kecil tersebut. Saat Albert, nama anak kecil itu, mulai memegang tikus putih kesayangannya, Albert kemudian diberikan sebuah pukulan keras dan menyakitkan. Saat Albert ingin memegang tikus itu kembali, pukulan yang lebih keras melayang padanya. Akhirnya tercipta suatu kondisi stimuli yang diharapkan, yaitu munculnya rasa takut Albert terhadap tikus putih itu. Jangankan memegang tikus putih, saat melihat tikus putih, Albert berlari ketakutan.

Itulah suatu eksperimen penciptaan perilaku dengan menciptakan suatu kondisi stimulus tertentu. Walau mashab ini mendapat banyak kritikan dari mashab psikologi selanjutnya, satu hal umum yang masih tetap berlaku adalah bahwa perilaku kita senantiasa ditentukan oleh kejadian masa lalu, adanya tekanan tertentu, dan berbagai sebab-sebab psikologis lainnya.

Keyakinan ini terus bertahan hingga menjelang tahun 2000. Mari kita lihat kisah Andrew, seorang anak yang berusia 9 tahun. Suatu hari Andrew mendatangi klinik Dr. Amen, seorang pakar dan peneliti hubungan antara otak dan perilaku, dengan kasus kepribadian yang berubah. Dulu Andrew adalah anak yang periang dan aktif. Saat berkunjung ke klinik Dr. Amen, ia nampak tertekan, agresif, dan pernah melontarkan ancaman bunuh diri dan akan membunuh orang lain di hadapan ibunya. Andrew pernah membuat gambar tentang dirinya yang tergantung di sebuah pohon, dan gambar lain tentang dirinya yang lagi menembak anak-anak. Andrew pernah menyerang seorang anak perempuan tanpa alasan.

Dalam keluarga Andrew, tidak ditemukan adanya riwayat keluarga yang pernah mengalami gangguan jiwa serius. Orang tua Andrew pun adalah orang tua yang penuh kasih, peduli, dan ramah terhadap Andrew. Dr. Amen kala itu mengalami banyak kritikan dari para koleganya tentang bidang baru yang dirintisnya ini. Para ahli jiwa lainnya mengkrtitik Amen dengan kritikan pedas, "Maksud Anda, Anda bisa melihat penyakit jiwa?" Para peng-kritik penelitian Amen mengungkapkan bahwa adalah mustahil memahami perilaku dengan memerhatikan pola otak.
Namun kisah Andrew lain. Mari kita lanjutkan kisahnya.Saat mengingat kritikan tersebut, Dr. Amen sempat menduga-duga masalah Andrew ini dengan dugaan ala psikiater atau psikolog. Jangan-jangan Andrew ini cemburu karena ia hanya anak kedua, dan memiliki seorang kakak yang "sempurna". Mungkin saja ada kekerasan yang pernah dilakukan oleh orang tua Andrew. Dan berbagai dugaan sebab psikologis lainnya. Namun ada satu hal yang menyadarkan lamunan sesaat Dr. Amen, yaitu bahwa secara normal, mustahil seorang anak berusia 9 tahun sudah memiliki pikiran ingin bunuh diri dan ingin membunuh orang lain, betapa pun beratnya beban psikologis untuk anak berusia 9 tahun.

Dr. Amen akhirnya melanjutkan risetnya terhadap Andrew. Dengan menggunakan SPECT (alat pencitraan otak) dan kemudian dilanjutkan dengan MRI, ditemukan bahwa pada otak lobus temporal kiri Andrew ternyata terdapat kista seukuran bola golf. Dan berdasarkan penelitian Amen, perilaku agresif berhubungan dengan adanya masalah pada lobus temporal kiri. Namun usaha Dr. Amen selanjutnya dalam menyembuhkan Andrew menemui beberapa hambatan klasik. Saat Andrew akan dirujuk ke dokter ahli bedah, para dokter ini selalu berkata bahwa perilaku agresif Andrew tidak berhubungan samasekali dengan kista di otaknya. Dan para dokter ini tidak menyarankan operasi sebelum tampak "gejala yang nyata", yaitu berupa gejala epilepsi atau mengalami gangguan bicara.

Namun Dr. Amen terus berusaha mencari dokter bedah lainnya. Akhirnya ia menemukan seorang dokter bedah anak, Jorge Lazareff, yang bersedia melakukan operasi kista pada otak Andrew. Dan ternyata Lazareff pernah melakukan operasi kista di bagian lobus temporal kiri pada 3 orang anak, dimana ke-3 anak tersebut juga sebelumnya memperlihatkan perilaku agresif.

Dan apa yang terjadi kemudian terhadap Andrew? Pasca siuman dari operasi, Andrew tersenyum kepada ibunya (sebuah senyuman yang baru lagi muncul sejak setahun terakhir). Perilaku agresif Andrew hilang, dan ia telah kembali menjadi seorang anak yang manis seperti saat usianya belum menginjak 7 tahun. Apa yang dilakukan oleh Dr. Amen ini membuktikan satu hal penting, seperti yang dikatakannya, "Sikap tidak ramah, tidak suka bekerja keras, tidak ceria, gelisah, tidak patuh atau jahat terkadang bukan karena seseorang menginginkannya, melainkan karena ada sesuatu yang salah dengan otak. Sesuatu yang dapat diperbaiki."

*) Syahril Syam adalah seorang berlisensi NLP dan certified Hypnotherapist.

Rabu, 22 Mei 2013

Fitri "Kalahkan" Gangguan Saraf demi Sekolah

Fitri "Kalahkan" Gangguan Saraf demi Sekolah

Bagi banyak anak dan remaja di daerah kecil, dalam keterbatasan ekonomi dan fisik, sekolah menjadi barang langka yang harus diperjuangkan dengan keras. Fitri Muyanti menjadi contohnya.

Setelah sempat tiga tahun vakum sekolah karena harus membantu ayah dan ibunya menyadap karet, dia mengaku sempat malu untuk melanjutkan sekolah dan belajar bersama anak-anak lain yang usianya lebih muda. Namun, jalan itu pun tak mudah ketika dia menderita gangguan saraf setelah membantu orangtuanya mencari uang dengan menambang emas di desa tetangga.

Karena kondisi itu, Fitri diperkirakan tak bisa melanjutkan sekolah. Namun, semangat kemudian mengembalikannya duduk di bangku sekolah.

Hilda Luluin, pengajar muda Indonesia Mengajar yang bertugas di SMPN SATAP 04 Bunut Hilir, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, mencatat semangat Fitri yang pernah dituangkannya dalam sebuah cerita...

"Pemotong Getah Bisa Jadi Guru"

Namanya Fitri, remaja putri kelas VIII di SMPN SATAP 04 Bunut Hilir. Rambutnya agak keriting dan kulit yang putih kemerah-merahan. Fitri seharusnya duduk di kelas XI SMA. Tiga tahun dia tidak sekolah dan menjadi penyadap getah karet. Fitri pernah bercerita bahwa awalnya dia malu untuk melanjutkan sekolah ke SMP karena usianya yang sudah berlebih. Namun kini Fitri sangat bersyukur karena dua tahun yang lalu ia mengikuti nasihat ibunya untuk melanjutkan sekolah.

Fitri anak yang sangat pendiam. Jarang aku melihatnya nongkrong di tempat Kak Neng (penjual makanan dekat sekolah) sebelum kelas dimulai ataupun saat istirahat seperti murid-murid yang lainnya. Jika aku mempersilahkannya maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal atau percakapan Bahasa Inggris, dia selalu maju dengan muka merah karena malu. Meskipun tampak malu-malu, Fitri selalu bisa mengerjakan soal-soal dengan lancar dan benar. Ia sangat menyukai pelajaran Biologi dan tidak pernah absen mendapatkan nilai tertinggi di pelajaran itu.

Liburan semester ganjil kemarin, Fitri mengalami musibah saat membantu orang tuanya mencari uang dengan menambang emas di desa tetangga yang mengakibatkan gangguan syaraf. Hampir dua bulan ia berobat ke kota dan tidak mengalami kemajuan. Kelas terasa kurang tanpa kehadirannya. Keadaan Fitri membaik setelah diobati secara tradisional. Namun demikian saudaranya menuturkan bahwa kemungkinan besar Fitri tidak dapat melanjutkan sekolahnya. Sangat kecewa rasanya ketika mendengar berita itu. Apalagi sebelum liburan berlangsung Fitri menuliskan sebuah cerita :

"Nama saya Fitri Muyanti. Saya adalah anak yang mandiri di sekolah maupun di rumah. Saat sekolah saya tidak pernah jajan. Karena saya berfikir, kalau jajan setiap hari uang saya habis. Uang yang diberi Ayah dan Ibuku untuk jajan di sekolah saya tabung. Supaya saya bisa melanjutkan sekolah lagi. Supaya saya bisa seperti teman lain yang bisa sekolah dan mengejar cita-cita saya. Jika cita-cita saya tercapai saya akan membahagiakan kedua orang tua saya.

Saya sebagai anak yang mandiri, kerja untuk membiayai sekolah diri sendiri. Pekerjaan saya adalah memotong getah. Setiap pagi saya motong getah bersama ibu saya. Saya dan ibu saya berangkat ke kebun menggunakan sampan dan dayung. Kami memotong getah dengan perlahan-lahan supaya kayu yang kami potong tidak mudah mati.

Saya seorang anak pemotong getah. Kadang-kadang berangkat dari pagi sekitar pukul 06.00 WIB dan pulang hingga pukul 11.30 WIB baru pulang dari kebun. Kadang aku dan ibu lapar setelah pulang memotong getah karena belum makan dan minum. Tapi untung ada kakakku di rumah. Dia sangat rajin memasak lauk pauk untuk kami semua. Ayahku bekerja sebagai nelayan. Hasil dari ayah bekerja sebagai nelayan itu yang kami masak.

Saat air pasang, kami memotong getah hingga tergenang air. Kami memotong getah di dalam air yang sangat dingin. Bila memotong getah di waktu banjir, saya banyak menemukan binatang. Terutama seperti ulat, kaki seribu, semut, lintah, siput, dan lain sebagainya yang hinggap di pohon. Sebenarnya saya sangat takut sekali memotong getah disaat banjir. Tapi kami tidak peduli dengan air pasang yang melaputi tubuh kami. Yang kami peduli adalah makan dan minum untuk kami sekeluarga. Mau tidak mau kami harus bekerja. Kalau tidak bekerja kami tidak akan makan.

Memotong getah, itulah harapan saya untuk bisa sekolah seperti teman lain. Bekerja sebagai nelayan tidak mampu mencukupi kebutuhan kami semua. Oleh karena itu kami harus bekerja setiap hari. Dan saya bekerja setiap hari, untuk membiayai sekolah saya dan membiayai makan minum saya.

Saat musim kemarau, Saya dan ibu saya sesampai di penyinggahan naik ke atas tanah tanah yang disertai lumpur. Kaki kami kotor. Tapi kami tidak peduli. Saya dan ibu berjalan terus hingga tiba di kebun kemudian memotong getah. Itulah, betapa sulitnya mencari uang untuk makan dan minum sehari-hari. Tapi kami tidak putus asa bekerja setiap hari. Begitu pula ayahku yang bekerja, berangkat pagi hari dan pulang siang hari untuk menghidupi kami sekeluarga.

Kadang di sekolah, kalau saya belum lapar saya tidak pernah membeli makanan maupun minuman walaupun saya ingin sekali membelinya. Sedangkan teman-temanku, mereka lapar atau tidak, tetap bisa membeli makanan ataupun minuman.Bukan hanya itu saja, kalau ada soal latihan dan saya salah mengerjakannya maka saya tidak mau boros. Kalau teman-teman saya bukunya disobek dan mengerjakan di kertas yang baru. Oleh karena itu saya menabung. Jadi, saat saya ingin membeli sesuatu saya tinggal mengambil uang di dalam tabungan saya sehingga tidak perlu repot-repot meminta uang pada kedua orang tua saya.

Saya belajar hidup mandiri dari kecil hingga sekarang. Oleh karena itu saya tidak pernah menyerah untuk berhenti bekerja. Supaya saya bisa sekolah seperti teman-teman yang lain. Saya sekolah. Saya akan belajar sungguh-sungguh supaya kedua orang tua saya bangga. Saya sekolah agar bisa meraih cita-cita saya menjadi seorang guru. Itulah saya, Fitri Muyanti anak yang mandiri di sekolah maupun di rumah."


Tepat dua bulan meninggalkan desa untuk berobat, Fitri kembali dengan kondisi yang lebih baik. Gangguan saraf yang diperkirakan akan menghalangi kemampuan berpikir Fitri sehingga ia tidak diperbolehkan bersekolah bisa dikalahkan dengan kemauan keras Fitri untuk melanjutkan sekolah. Yah, kini Fitri sudah kembali ke bangku sekolah. Meskipun dengan badan yang tak sekuat dulu, tekad bulat Fitri untuk menjadi guru membuatnya bisa terus melangkah dan belajar. Meskipun dua bulan tertinggal dari teman-temannya, dengan penuh semangat, ia meminjam catatan teman-temannya dan mampu mengejar bahkan mengungguli kawan-kawan yang lain dan terpilih menjadi wakill SMP 4 SATAP Bunut hilir untuk maju di ajang OSN Biologi di Kota Putussibau. Maju Terus Fitri. Pemotong getah bisa jadi guru.

Sumber: indonesiamengajar.org/cerita-pm/