Fitri "Kalahkan" Gangguan Saraf demi Sekolah
Bagi banyak anak dan remaja di daerah kecil, dalam keterbatasan ekonomi
dan fisik, sekolah menjadi barang langka yang harus diperjuangkan dengan
keras. Fitri Muyanti menjadi contohnya.
Setelah sempat tiga tahun vakum sekolah karena harus membantu ayah dan
ibunya menyadap karet, dia mengaku sempat malu untuk melanjutkan sekolah
dan belajar bersama anak-anak lain yang usianya lebih muda. Namun,
jalan itu pun tak mudah ketika dia menderita gangguan saraf setelah
membantu orangtuanya mencari uang dengan menambang emas di desa
tetangga.
Karena kondisi itu, Fitri diperkirakan tak bisa melanjutkan sekolah.
Namun, semangat kemudian mengembalikannya duduk di bangku sekolah.
Hilda Luluin, pengajar muda Indonesia Mengajar yang bertugas di SMPN
SATAP 04 Bunut Hilir, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, mencatat semangat
Fitri yang pernah dituangkannya dalam sebuah cerita...
"Pemotong Getah Bisa Jadi Guru"
Namanya Fitri, remaja putri kelas VIII di SMPN SATAP 04 Bunut Hilir.
Rambutnya agak keriting dan kulit yang putih kemerah-merahan. Fitri
seharusnya duduk di kelas XI SMA. Tiga tahun dia tidak sekolah dan
menjadi penyadap getah karet. Fitri pernah bercerita bahwa awalnya dia
malu untuk melanjutkan sekolah ke SMP karena usianya yang sudah
berlebih. Namun kini Fitri sangat bersyukur karena dua tahun yang lalu
ia mengikuti nasihat ibunya untuk melanjutkan sekolah.
Fitri anak yang sangat pendiam. Jarang aku melihatnya nongkrong di
tempat Kak Neng (penjual makanan dekat sekolah) sebelum kelas dimulai
ataupun saat istirahat seperti murid-murid yang lainnya. Jika aku
mempersilahkannya maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal atau
percakapan Bahasa Inggris, dia selalu maju dengan muka merah karena
malu. Meskipun tampak malu-malu, Fitri selalu bisa mengerjakan soal-soal
dengan lancar dan benar. Ia sangat menyukai pelajaran Biologi dan tidak
pernah absen mendapatkan nilai tertinggi di pelajaran itu.
Liburan semester ganjil kemarin, Fitri mengalami musibah saat membantu
orang tuanya mencari uang dengan menambang emas di desa tetangga yang
mengakibatkan gangguan syaraf. Hampir dua bulan ia berobat ke kota dan
tidak mengalami kemajuan. Kelas terasa kurang tanpa kehadirannya.
Keadaan Fitri membaik setelah diobati secara tradisional. Namun demikian
saudaranya menuturkan bahwa kemungkinan besar Fitri tidak dapat
melanjutkan sekolahnya. Sangat kecewa rasanya ketika mendengar berita
itu. Apalagi sebelum liburan berlangsung Fitri menuliskan sebuah cerita :
"Nama saya Fitri Muyanti. Saya adalah anak yang mandiri di sekolah
maupun di rumah. Saat sekolah saya tidak pernah jajan. Karena saya
berfikir, kalau jajan setiap hari uang saya habis. Uang yang diberi Ayah
dan Ibuku untuk jajan di sekolah saya tabung. Supaya saya bisa
melanjutkan sekolah lagi. Supaya saya bisa seperti teman lain yang bisa
sekolah dan mengejar cita-cita saya. Jika cita-cita saya tercapai saya
akan membahagiakan kedua orang tua saya.
Saya sebagai anak yang mandiri, kerja untuk membiayai sekolah diri
sendiri. Pekerjaan saya adalah memotong getah. Setiap pagi saya motong
getah bersama ibu saya. Saya dan ibu saya berangkat ke kebun menggunakan
sampan dan dayung. Kami memotong getah dengan perlahan-lahan supaya
kayu yang kami potong tidak mudah mati.
Saya seorang anak pemotong getah. Kadang-kadang berangkat dari pagi
sekitar pukul 06.00 WIB dan pulang hingga pukul 11.30 WIB baru pulang
dari kebun. Kadang aku dan ibu lapar setelah pulang memotong getah
karena belum makan dan minum. Tapi untung ada kakakku di rumah. Dia
sangat rajin memasak lauk pauk untuk kami semua. Ayahku bekerja sebagai
nelayan. Hasil dari ayah bekerja sebagai nelayan itu yang kami masak.
Saat air pasang, kami memotong getah hingga tergenang air. Kami memotong
getah di dalam air yang sangat dingin. Bila memotong getah di waktu
banjir, saya banyak menemukan binatang. Terutama seperti ulat, kaki
seribu, semut, lintah, siput, dan lain sebagainya yang hinggap di pohon.
Sebenarnya saya sangat takut sekali memotong getah disaat banjir. Tapi
kami tidak peduli dengan air pasang yang melaputi tubuh kami. Yang kami
peduli adalah makan dan minum untuk kami sekeluarga. Mau tidak mau kami
harus bekerja. Kalau tidak bekerja kami tidak akan makan.
Memotong getah, itulah harapan saya untuk bisa sekolah seperti teman
lain. Bekerja sebagai nelayan tidak mampu mencukupi kebutuhan kami
semua. Oleh karena itu kami harus bekerja setiap hari. Dan saya bekerja
setiap hari, untuk membiayai sekolah saya dan membiayai makan minum
saya.
Saat musim kemarau, Saya dan ibu saya sesampai di penyinggahan naik ke
atas tanah tanah yang disertai lumpur. Kaki kami kotor. Tapi kami tidak
peduli. Saya dan ibu berjalan terus hingga tiba di kebun kemudian
memotong getah. Itulah, betapa sulitnya mencari uang untuk makan dan
minum sehari-hari. Tapi kami tidak putus asa bekerja setiap hari. Begitu
pula ayahku yang bekerja, berangkat pagi hari dan pulang siang hari
untuk menghidupi kami sekeluarga.
Kadang di sekolah, kalau saya belum lapar saya tidak pernah membeli
makanan maupun minuman walaupun saya ingin sekali membelinya. Sedangkan
teman-temanku, mereka lapar atau tidak, tetap bisa membeli makanan
ataupun minuman.Bukan hanya itu saja, kalau ada soal latihan dan saya
salah mengerjakannya maka saya tidak mau boros. Kalau teman-teman saya
bukunya disobek dan mengerjakan di kertas yang baru. Oleh karena itu
saya menabung. Jadi, saat saya ingin membeli sesuatu saya tinggal
mengambil uang di dalam tabungan saya sehingga tidak perlu repot-repot
meminta uang pada kedua orang tua saya.
Saya belajar hidup mandiri dari kecil hingga sekarang. Oleh karena itu
saya tidak pernah menyerah untuk berhenti bekerja. Supaya saya bisa
sekolah seperti teman-teman yang lain. Saya sekolah. Saya akan belajar
sungguh-sungguh supaya kedua orang tua saya bangga. Saya sekolah agar
bisa meraih cita-cita saya menjadi seorang guru. Itulah saya, Fitri
Muyanti anak yang mandiri di sekolah maupun di rumah."
Tepat dua bulan meninggalkan desa untuk berobat, Fitri kembali dengan
kondisi yang lebih baik. Gangguan saraf yang diperkirakan akan
menghalangi kemampuan berpikir Fitri sehingga ia tidak diperbolehkan
bersekolah bisa dikalahkan dengan kemauan keras Fitri untuk melanjutkan
sekolah. Yah, kini Fitri sudah kembali ke bangku sekolah. Meskipun
dengan badan yang tak sekuat dulu, tekad bulat Fitri untuk menjadi guru
membuatnya bisa terus melangkah dan belajar. Meskipun dua bulan
tertinggal dari teman-temannya, dengan penuh semangat, ia meminjam
catatan teman-temannya dan mampu mengejar bahkan mengungguli kawan-kawan
yang lain dan terpilih menjadi wakill SMP 4 SATAP Bunut hilir untuk
maju di ajang OSN Biologi di Kota Putussibau. Maju Terus Fitri. Pemotong
getah bisa jadi guru.
Sumber: indonesiamengajar.org/cerita-pm/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar